Media Informasi, Edukasi dan Wadah Kreativitas Warga UBL

Rabu, 11 November 2020

Sejarah dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw (selesai)

(Warga UBL sedang Membaca Mahalul Qiyam Kitab al-Barzanzi)

UmbulBalongnews, Cirebon - Kontroversi lainnya adalah mengenai tanggal perayaannya. Penentuan tanggal kelahiran Nabi SAW pada 12 Rabi'ul Awal masih belum jelas titik temunya. Hal ini dapat ditarik ke sejarah penetapan kalender dalam Islam yang baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab pada 630-an Masehi.

Sebagian menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sebenarnya lahir pada 9 Rabiul Awal dan sebagian lainnya yakin bahwa beliau lahir pada 12 Rabiul Awal yang sekarang menjadi hari peringatan Maulid Nabi SAW.

Dalam "Maulid Nabi Perspektif Al-Qur'an dan Sunnah" yang terbit di NU Online, Ahmad Muzakki menuliskan bahwa kendati menuai kontroversi, sebaiknya perayaan maulid nabi dipandang sebagai salah satu tradisi dari tradisi-tradisi baik untuk menyuarakan syiar Islam, bukan ritual keagamaan yang dibuat-buat.

Terlebih lagi, isi dari perayaan Maulid Nabi SAW adalah ibadah-ibadah yang telah diatur dalam al-Qur’an dan hadis.

Menurut banyak ulama, jika dalam perayaan itu terdapat kebaikan dan menjauhi dosa dan hal-hal buruk, atau mendatangkan karunia besar, maka perayaan Maulid Nabi SAW dapat dipandang sebagai bid'ah hasanah dan yang melakukannya memperoleh pahala.

Read More

Senin, 09 November 2020

Keutamaan Membaca dan Mengamalkan Surat Al-Waqi’ah

UmbulBalongnews, Cirebon - Al-Qur'an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam. Sebagai petunjuk, Al-Qur’an juga sebagai nasehat, obat, hidayah, dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Selain dapat dipahami secara tekstual, Al-Qur’an juga dapat digali kandungan makna dan hikmahnya yang luas, di antaranya dengan pemaknaan secara praktis di luar teksnya, seperti penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual yang diyakini oleh masyarakat dapat memberikan manfaat dan pengaruh positif dalam kehidupan.

Salah satu surat yang memiliki manfaat dan keutamaan ialah surat Al-Waqi'ah. Surat Al-Waqi'ah adalah salah satu surat yang dikenal sebagai surat penuh berkah. Keberkahannya mampu melenyapkan kemiskinan dan mendatangkan rezeki bagi siapa saja yang rutin membacanya setiap hari.

Surat ini merupakan surat ke 56 pada juz ke 27 yang terdiri dari 96 ayat dan termasuk golongan surat Makiyyah. Surat ini dinamai Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat), yang diambil dari perkataan Al-Waaqi’ah dalam ayat pertama.

Keutamaan membaca surat Al-Waqi'ah ini sebagaimana dirasakan oleh sebagian shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah mengajarkan mereka untuk konsisten membaca surat Al-Waqi’ah supaya dimudahkan rezeki dan dihindari dari kesusahan. Karena itu, bila seorang muslim dan muslimah mengamalkannya setiap hari, maka banyak manfaat yang akan diterimnya.

Dalam buku 'Multi Perspektif Surat Al-Waqiah', penulis Zakia Machdi menyebutkan, bahwa membaca surat Al-Waqiah merupakan amalan terbaik bagi perempuan, karena bisa menjadi pelindung bagi dirinya dari segala kemudharatan yang ada di dunia dan juga agar terhindar dari kemiskinan.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan Abdullah bin Mas’ud tengah sakit parah. Shahabat Rasulullah, Utsman bin Affan menjeguknya dan bertanya kepadanya:

“Apa engkau khawatir anak-anak perempuanku mengalami kefakiran? Aku memerintahkan anak-anak perempuanku agar mereka membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam. Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan mengalami kesulitan selamanya.’”

Kisah ini juga dinukil Imam al-Qurthubi, Imam al-Alusi, Imam al-Suyuthi, dan beberapa ahli tafsir lainnya di dalam karya mereka. Selain kitab tafsir, riwayat ini juga dikutip Imam al-Nawawi dalam al-Adzkar dan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Kendati riwayat ini dianggap dhaif, tetapi tetap boleh diamalkan, karena tidak semua hadis dhaif tidak boleh diamalkan. Hadis dhaif boleh diamalkan selama kedhaifannya tidak terlalu parah.

Begitu juga dengan hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud, Imam al-Suyuthi dalam al-Durrul Mantsur juga mengutip riwayat dari Anas bin Malik tentang keutamaan surat Al-Waqi’ah. Riwayatnya sebagai berikut:

سُوْرَةُ الْوَاقِعَةِ سُوْرَةُ الْغِنَى فَاقْرَأُوهَا وَعَلَّمُوْهَا أَوْلَادَكُمْ

Surat al-Waqi’ah adalah surat yang membuat kaya. Maka bacalah ia dan ajarkanlah kepada anak-anak kalian.”

عَلِّمُوْا نِسَاءَكُمْ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّهَا سُوْرَةُ الْغِنَى

Ajarkanlah surat Al-Waqi’ah pada perempuan-perempuan kalian. Sesungguhnya surat Al-Waqi’ah adalah surat yang membuat kaya.”

Selain itu, keutamaan lainnya dari surat Al-Waqi'ah, merupakan doa wirid, menghindarkan dari kemiskinan (kesulitan hidup), dan melancarkan rezeki. Bagi siapa saja yang membaca surat Al-Waqi'ah secara rutin setiap hari dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan serta membacanya pada satu malam, maka dirinya akan dihindarkan dari kemiskinan.

Bahkan bila membaca surat Al-Waqi'ah selama 40 hari dan 40 malam, maka selama itupun rezeki kita akan dimudahkan dan mengalir deras dari berbagai penjuru.

Adapun fadhilah surat Waqiah yang lain sebagai berikut:

1.       Dijauhkan dari kemiskinan

2.       Memperoleh kekayaan berlimpah

3.       Ditunaikan hajatnya berhubungan dengan rizeki

4.       Dijadikan hartawan dan dermawan

5.       Dilimpahkan rezeki

6.       Mempermudah roh keluar dari jasadnya

7.       Diringankan sakitnya.

Wallahu A'lam

Read More

Pesantren Madinatul Ilmi Akan Gelar Ijazah Doa Surat Al-Waqiah dan Resmikan Jam’iyah Waqi’ah

UmbulBalongnews, Cirebon - Dalam tradisi Islam, ijazah merupakan salah satu metode penting dalam transfer keilmuan dan pendidikan. Ijazah adalah pemberian mata rantai ilmu atas disiplin ilmu tertentu ataupun amalan secara spesifik.

Wujud ikhtiar untuk mempertahankan tradisi khas Islam tersebut, Pondok Pesantren Madinatul Ilmi akan menyelenggarakan kajian Surat al-Waqi’ah, pembacaan Surat al-Waqi’ah, Ijazah doa surat al-Waqi’ah dan meresmikan jam’iyah waqi’ah Blok Balong oleh Pengasuh Ma’had Salafi Babakan Ciwaringin, KH. Lukman Hakim dan pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ilmi, KH. Badruzzaman.

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan nanti malam, pukul 19:30 WIB (Senin, 9 November 2020) di Masjid Pondok Pesantren Madinatul Ilmi dan terbuka untuk umum. Tapi dengan catatan, tetap menjalankan protokol Covid-19, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Read More

Minggu, 08 November 2020

Sejarah dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw (2)

 

(Warga UBL sedang memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di Musholah al-Munawaroh)

UmbulBalongnews, Cirebon - Peringatan Maulid Nabi yang kembali dipelopori oleh Salahuddin Al-Ayyubi itu melahirkan buah positif. Semangat juang melalui teladan kisah hidup Nabi Muhammad SAW berhasil dengan baik.

Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem bisa direbut dari tangan bangsa Eropa, dan Masjid al-Aqsa menjadi masjid kembali setelah sebelumnya diubah menjadi gereja.

Kendati demikian, perayaan Maulid Nabi sebenarnya terus menyisakan kontroversi. Dalam Sejarah Peringatan Maulid Nabi (2007) yang ditulis Nashir Al Hanin menyebutkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah bid'ah atau ritual terlarang karena tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad SAW.

Dengan alasan bid'ah juga, sebenarnya instruksi Salahuddin Al Ayyubi turut ditentang oleh para alim-ulama pada 1183, karena usulnya menghidupkan kembali Maulid Nabi.

Namun Salahuddin membantah bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan untuk menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Apalagi, selepas disetujui Khalifah An-Nashir di Bagdad, perayaan ini kian semarak dilakukan.

Read More

Sabtu, 07 November 2020

Sejarah dan Perayaan Maulid Nabi di Mushala Al-Munawaroh (1)

 

(Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Mushala Al-Munawaroh)

UmbulBalongnews, Cirebon - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki sejarah panjang dalam khazanah Islam. Kendati belum dilakukan di masa kenabian, hari Maulid Nabi menjadi perayaan besar yang diselenggarakan di banyak wilayah di seluruh dunia.

Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi Muhammad dilakukan dengan berbagai cara. Dilansir dari NU Online, Maulid Nabi biasanya diselenggarakan dengan membaca Manakib Nabi Muhammad dalam Kitab Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba’, Saroful Anam, Burdah, dan lain-lain.

Selepas membaca Manakib Nabi Muhammad, acaranya dilakukan dengan santap makanan bersama-sama yang disiapkan secara gotong royong. Perayaan ini dlakukan sebagai cara meneladani jalan hidup dan tuntunan yang dibawa oleh Nabi SAW.

Moch Yunus dalam Peringatan Maulid Nabi [Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia] (2019) menuliskan bahwa jika ditarik riwayatnya, perayaan Maulid Nabi Muhammad pertama kali diinisiasi oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dari dinasti Fathimiyyah di Mesir pada 341 Hijriyah. 

(Warga UBL sedang membaca al-Barzanzi) 

Kemudian, perayaan Maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir li Ahkamillah pada 524 H.

Perayaan Maulid Nabi SAW kemudian dilakukan kembali berdasarkan instruksi Salahuddin Al Ayyubi pada 1183 M (579 H), atas usul Muzaffaruddin, saudara iparnya. Di antara tujuannya adalah untuk meningkatkan semangat juang umat Islam, serta mengimbangi maraknya perayaan Natal yang dilakukan umat Nasrani.

Setahun berikutnya, pada 1184, perayaan maulid dilakukan dengan kegiatan yang amat terkenal yaitu sayembara penulisan riwayat Nabi SAW beserta puja-pujian kepada beliau. Syaikh Ja'far Al-Barzanji terpilih menjadi pemenenang dengan kitabnya yang kerap dibaca selama Maulid Nabi Muhammad yaitu Kitab Barzanji.

Read More

Kamis, 05 November 2020

Kreativitas Saat Karnaval








 

Read More

Selasa, 03 November 2020

Pawai Obor

 






Read More

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Selesai)

(Keterangan foto: di dalam Goa Safarwadi)

UmbulBalongnews, Cirebon - Dalam kitab Istigal Tareqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah diceritakan beberapa kisah karomah Syekh Abdul Muhyi. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, suatu hari ada orang yang dikejar-kejar sekawanan lebah, lari meminta pertolongan Syekh Abdul Muhyi. Kemudian Syekh Abdul Muhyi berseru kepada kelompok lebah itu, “Kenapa kalian lebah bersikap begitu kepada manusia. Apakah kalian tak mengerti di dalam tubuh manusia lahir dan batin ada lathoif laa ilaha illa Allah !” Lebah-lebah itu langsung mati. Lalu tubuh orang itu seperti keluar asap. Dia selamat tanpa bekas luka apapun.

Kedua, saat seseorang membawa istrinya yang buta setelah melahirkan menemui Syekh Abdul Muhyi untuk minta kesembuhan. Oleh Syekh Abdul Muhyi mereka diajak dzikir, membaca kalimat tahlil (laa ilaha illa Alloh ) sebanyak 165 kali di masjid. Tak berapa lama wanita yang buta itu pun sembuh.

Ketiga, di waktu yang lain seseorang membawa anak yang terkena stroke, tubuhnya mati separuh untuk menemui Syekh Abdul Muhyi. Kemudian diajak oleh Syekh Abdul Muhyi berzikir kalimat tahlil sebanyak 165 kali. Akhirnya setelah itu anak yang stroke tadi sembuh total.

Keempat, ketika ada orang yang tidak bisa tidur selama 11 hari dan minta tolong kepada Syekh Abdul Muhyi. Orang itu juga diajak berzikir sebanyak 165 kali dan lagi-lagi orang tadi akhirnya bisa tidur.

Kelima, Syekh Abdul Muhyi juga menolong orang lewat karomahnya untuk memperbanyak hasil panen dan ternak kerbau.

Keenam, Syekh Abdul Muhyi juga dikenal kesaktiannya. Beliau mengalahkan dua tukang sihir sakti, dan kemudian dua penyihir itu menjadi murid-muridnya

Disamping ahli dalam llmu agama Syekh Abdul Muhyi juga ahli dalam ilmu kedokteran, ilmu hisab, ilmu pertanian dan juga ahli seni baca Alquran.

Maka pada saat itu banyak para wali yang datang ke Pamijahan untuk berdialog masalah agama seperti waliyullah dari Banten Syekh Maulana Mansyur, putra Sultan Abdul Patah Ageng Tirtayasa keturunan Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunungjati juga Syekh Ja’far Shodiq yang makamnya di Cibiuk, Limbangan- Garut.

Makam Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan, Tasikmalaya saat ini banyak diziarahi oleh kaum muslimin karena dikeramatkan.

Read More

Minggu, 01 November 2020

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (4)

(Keterangan foto: di dalam Goa Safarwadi)

UmbulBalongnews, Cirebon - Di dalam Gua Pamijahan ada 'Kopiah Haji', yaitu lekukan-lekukan bulat atap gua yang menyerupai peci. Konon jika ada yang pas saat berdiri, Insya Allah akan bisa naik haji. ada juga lubang-lubang seperti mulut gua yang dikisahkan menjadi 'jalan tembus menuju Banten, Cirebon, sampai Makkah'.

Sekian lama mendidik santrinya di dalam gua, kemudian Syekh Abdul Muhyi mulailah menyebarkan agama Islam di perkampungan penduduk.

Di dalam perjalanan, sampailah di salah satu perkampungan yang terletak di kaki gunung, bernama Kampung Bojong. Selama bermukim di Bojong dianugerahi beberapa putra dari istrinya, Ayu Bakta. Diantara putra dia adalah Dalem Bojong, Dalem Abdullah, Media Kusumah, Pakih Ibrahim.

Beberapa lama setelah menetap di Bojong, atas petunjuk dari Allah, Syekh Abdul Muhyi beserta santri-santrinya pindah ke daerah Safarwadi. Di sini dia membangun masjid dan rumah sebagai tempat tinggal sampai akhir hayatnya.

Dalam menyebarkan agama Islam Syekh Abdul Muhyi mengunakan metode Tharekat Nabawiah yaitu dengan akhlak yang luhur disertai tauladan yang baik.

(Sedang memasuki masjid)

Salah satu contoh metode dalam mengislamkan seseorang adalah sewaktu dia melihat seseorang yang sedang memancing ikan.

Namun orang itu kelihatan sedih karena tidak mendapat seekor ikanpun. Lalu dihampirinya dan disapa, "Bolehkah saya meminjam kailnya?" Orang itu memperbolehkannya. Syekh Abdul Muhyi mulai memancing sambil berdoa, "Bismillaah hirrohmaa nir roohiim, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah, Wa Asy Hadu Anna Muhammaddur Rasulullah,".

Setiap kail dilemparkan ke dalam air, ikan selalu menangkapnya. Tidak lama kemudian ikan yang didapat sangat banyak sekali sampai membuat orang tersebut keheranan dan bertanya, "Apa doa yang dibaca untuk memancing?. Dia menjawab, "Basmalah dan Syahadat". Akhirnya orang tersebut tertarik dengan doa itu dan masuk Islam.

Read More

Sabtu, 31 Oktober 2020

KH. Badruzzaman Akan Isi Peringatan Maulid Nabi di Pakopen

UmbulBalongnews, Cirebon - Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia menjadi momen spesial yang ditunggu-tunggu. Selain menjadi hari untuk mengingat dan mempelajari kembali sejarah Nabi Muhammad, beberapa tradisi turut digelar di beberapa daerah.

Di Blok Pakopen RT 04 RW 02 Desa Sindangjawa, para warga sekitar akan memperingati Maulid Nabi Muhammad dengan Pengajian Umum di Mushala Nurul Hidayah, yang diisi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ilmu, KH. Badruzzaman.

Agenda pengajian umum pada peringatan maulid tersebut akan diisi dengan berdzikir, menyenandungkan puji-pujian kepada Allah SWT, shalawat dan siram rohani oleh KH. Badruzzaman pada Sabtu, 31 Oktober 2020, pada jam 19.30 WIB nanti malam.

Perlu diketahui kegiatan pengajian tersebut merupakan inisiatif para Panitia Hari Besar Islam (PHBI) warga Pakopen.

Read More

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (3)

(Foto dari kanan: Bapak Syahidin, KH. Badruzzaman, Bapak H. Yayat)

UmbulBalongnews, Cirebon - Akhirnya beliau turun ke lembah sambil bertafakur melihat indahnya pemandangan sambil mencoba menanam padi.

Bila senja tiba, dia kembali ke Lebaksiu menjumpai keluarganya, karena jarak dari tempat ini tidak begitu jauh, sekitar 6 km.

Suasana di pegunungan tersebut sering membawa perasaan tenang, maka gunung tersebut diberi nama Gunung Mujarod yang berarti gunung untuk menenangkan hati.

Pada suatu hari, Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan waktunya untuk dipetik. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah.

Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang, hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Ini sebagai tanda bahwa perjuangan mencari gua sudah dekat.

Untuk meyakinkan adanya gua di dalamnya maka di tempat itu ditanam padi lagi, sambil berdoa kepada Allah, semoga gua yang dicari segera ditemukan.

Maka dengan kekuasan Allah, padi yang ditanam tadi segera tumbuh dan waktu itu juga berbuah dan menguning, lalu dipetik dan hasilnya ternyata sama, sebagaimana hasil panen yang pertama. Disanalah dia yakin bahwa di dalam gunung itu adanya gua.

(Keterangan foto: Bapak Zainal Asikin berdiri di depan pintu masuk) 

Sewaktu Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, terdengarlah suara air terjun dan kicauan burung yang keluar dari dalam lubang. Dilihatnya lubang besar itu, di mana keadaannya sama dengan gua yang digambarkan oleh gurunya.

Seketika kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Telah ditemukan gua bersejarah, dimana ditempat ini dahulu Syekh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yang bernama Imam Sanusi.

Gua yang sekarang dikenal dengan nama Gua Pamijahan diyakini adalah warisan dari Syeikh Abdul Qodir Al Jailani yang hidup kurang lebih 200 tahun sebelum Abdul Muhyi. Gua ini terletak di antara kaki Gunung Mujarod.

Sejak gua ditemukan Abdul Muhyi bersama keluarga beserta santri-santrinya bermukim disana. Disamping mendidik santrinya dengan ilmu agama, dia juga menempuh jalan tarekat.

Read More

Jumat, 30 Oktober 2020

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (2)

(Foto dari kanan: Adam Lutfi Maulana, Arif, Zainal Asikin, Labib Husni al Maududi)

UmbulBalongnews, Cirebon - Tak lama setelah pernikahannya, beliau bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darma Kuningan. Atas permintaan penduduk setempat Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun. Kabar tentang menetapnya Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana.

Disamping untuk membina penduduk, dia juga berusaha untuk mencari gua yang diperintahkan oleh gurunya, dengan mercoba beberapa kali menanam padi, ternyata gagal karena hasilnya melimpah.

Sedang harapan dia sesuai isyarat tentang keberadaan gua yang diberikan oleh Syekh Abdul Rauf adalah apabila di tempat itu ditanam padi maka hasilnya tetap sebenih artinya tidak menambah penghasilan maka di sanalah gua itu berada.

Karena tidak menemukan gua yang dicari akhirnya Syekh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan mencari gua.

(Foto di dalam Gua Safarwadi)

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah di daerah Pamengpeuk (Garut Selatan). Di sini dia bermukim selama 1 tahun untuk menyebarkan agama Islam secara hati-hati mengingat penduduk setempat waktu itu masih beragama Hindu.

Setahun kemudian ayahanda (Sembah Lebe Warta Kusumah) meninggal dan dimakamkan di kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan. Beberapa hari seusai pemakaman ayahandanya, dia melanjutkan perjalan mencari gua dan sempat bermukim di Batu Wangi.

Perjalanan dilanjutkan dari Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiu dan bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690 M).

Walaupun di Lebaksiu tidak menemukan gua yang dicari, dia tidak putus asa dan melangkahkan kakinya ke sebelah timur dari Lebaksiu yaitu di atas Gunung Kampung Cilumbu.

Read More

Kamis, 29 Oktober 2020

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw

UmbulBalongnews, Cirebon - Kami segenap pegasuh dan pengurus Pondok Pesantren Madinatul Ilmi mengucapkan Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Semoga kita selalu dapat meneladani kepribadian Rasulullah Saw dalam kehidupan kita sehari-hari.

Read More

Rabu, 28 Oktober 2020

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (1)

(Foto dari kanan: KH. Badruzzaman, Deni Musadad, Bapak H. Yayat, Jufri, Bapak Syahidin, Alung, Zainal Asikin)

UmbulBalongnews, Cirebon - Nama Syekh Abdul Muhyi tak asing lagi bagi para warga di Pamijahan, Tasikmalaya karena sosoknya diyakini sebagai salah seorang wali Allah yang memiliki segudang karomah.

Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan Raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar 1650 Masehi atau 1071 Hijriah dan dibesarkan oleh orangtuanya di Kota Gresik.

Dia selalu mendapat pendidikan agama baik dari orang tua maupun dari ulama-ulama sekitar Gresik. Saat berusia 19 tahun dia pergi ke Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdul Rauf Singkil bin Abdul Jabar selama 8 tahun.

Pada usia 27 tahun dia beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan bermukim di sana selama dua tahun. Setelah itu diajak oleh Syekh Abdul Rauf ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji.

Ketika sampai di Baitullah, Syekh Abdul Rauf mendapat ilham kalau di antara santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda maka Syekh Abdul Rauf harus menyuruh santrinya pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim di sana.

(Foto dari depan: Arif, Deni Musadad, Labib Husni al Maududi, Jufri)

Suatu saat sekitar waktu ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya Syekh Abdul Rauf sebagai tanda-tanda tersebut.

Setelah itu, Syekh Abdul Rauf menyuruh pulang Abdul Muhyi ke Gresik untuk minta restu dari kedua orangtua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di salah satu daerah di Jawa Barat.

Sebelum berangkat mencari gua, Abdul Muhyi dinikahkan oleh orangtuanya dengan Ayu Bakta putri dari Sembah Dalem Sacaparana putra Dalem Sawidak atau Raden Tumenggung Wiradadaha III.

Read More

Jumat, 23 Oktober 2020

RA Madinatul Ilmi Ajarkan Pendidikan Agama Islam Sejak Dini

 

(Murid-Murid RA Madinatul Ilmi Foto Bersama di Depan Masjid Pondok Madinatul Ilmi)

UmbulBalongnews, Cirebon - Dalam mencetak genarasi putra-putri yang saleh dan salehah, Raudhatul Athfal (RA) Madinatul Ilmi Blok Umbul Balong, Desa Sindangjawa tanamkan metode pembelajaran agama Islam sejak dini.

Menanamkan ilmu agama Islam sejak masa kanak-kanak merupakan pembekalan diri yang sangat penting, karena hal tersebut dapat menjadi bekal untuk anak-anak agar menjadi putra-putri yang mengenal Tuhannya dan memahami agamanya, serta menerapkan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tingkat yang paling dasar, RA Madinatul Ilmi akan mengajari anak-anak dengan mengenal Allah SWT dan seluruh cipataan-Nya.

(Murid-Murid RA Madinatul Ilmi Sedang Praktik Ibadah)

“Pengetahuan agama yang kami (guru-guru) ajarkan kepada anak-anak adalah dengan mengenalkan Allah SWT, nama-nama 25 Nabi sekaligus sifat-sifatnya, nama-nama kitab, dan arah kiblat. Dengan begitu diharapkan anak-anak dapat mengenal Tuhannya dan memahami agamanya,” kata Bu Sumiyati., S.Pd.I.

Lebih lanjut, melalui pelajaran agama, menurut Bu Sumi sapaan akrabnya, anak-anak kemudian dikenalkan ritual ibadah terutama salat, wudu, membaca doa sehari-hari. Juga diajarkan pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa Islami agar terbentuk akhlak karimah.

“Para guru-guru RA Madinatul Ilmi dengan telaten mengajarkan anak-anak untuk praktik salat, praktik wudhu, hafalan doa sehari-sehari dan hafalan juz‘ama. Pembelajaran ini diharapkan agar anak-anak dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

(Murid-Murid RA Madinatul Ilmi Sedang Berdoa)

Perlu diketahui, RA Madinatul Ilmi adalah lembaga pendidikan bagi anak-anak yang berada di Blok Umbul Balong yang didirikan oleh Hj. Eri Satiri dan KH. Badruzzaman. Adapun staf pengajar RA Madinatul Ilmi adalah Desi Himmatul Ajizah., S.Psi,  Sumiayati., S.Pd.I, dan Komalaningsih., S.Pd.I.


Read More

Kamis, 22 Oktober 2020

Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Cirebon Gelar Doa Tolak Bala Bersama Masyarakat

UmbulBalongnews, Cirebon - Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Cirebon menggelar doa tolak bala bersama masyarakat, di masjid setempat, pada Selasa 13 Oktober 2020, malam.

Katua Tahfidz PP Madinatul Ilmi, Adam Lutfi Maulana mengatakan, doa bersama di malam Rabu Wekasan merupakan tradisi yang sarat mengandung nilai-nilai luhur yang telah diajarkan oleh para wali, yaitu yang mengajarkan Islam dengan cara kultural.

“Tradisi Rabu Wekasan ini menjadi nilai budaya dan sosial yang tidak terlepas dari pengaruh ajaran Islam,” kata Adam sapaan akrabnya, melalui pesan yang di terima Laduni.id.

Terlebih di Cirebon sendiri, menurut Adam, dalam tradisi Rabu Wekasan selain diisi dengan ritual ibadah, masyarakat sekitar juga mengisi dengan cara sosial, yaitu dengan sedekah mengasih makanan Apem kepada tetangga dan para santri.

“Selain berdoa, kami juga menjalankan tradisi ini dengan bersedekah, yaitu dengan bagi-bagi makanan Apem. Dan ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh para santri,” ungkapnya.

Selain itu, Adam juga menyampaikan, doa bersama di malam Rebo Wekasan salah satu tujuannya adalah untuk mengajak kepada para santri dan kepada warga sekitar untuk memohon perlindungan dari Allah AWT agar terhindar dari segala marabahaya dan musibah, terutama agar terhindar dari wabah penyakit Covid-19 yang sedang melanda di Indonesia. 

“Kami dari Pondok Pesantren Madinatul Ilmi mengajak kepada masyarakat sekitar untuk doa bersama agar Indonesia kembali aman dan penyakit Covid-19 segara diangkat oleh Allah SWT,” tuturnya.

Adam berpesan, semoga tradisi Rabu Wekasan dapat terus dilestarikan, karena Rabu Wekasan merupakan tradisi yang membawa kebaikan.

Read More

Sejarah Singkat Blok Umbul Balong

Di blok kami, di Desa Sindangjawa, Kec. Dukupuntang, Kab. Cirebon terdapat sebuah makam keramat, makam sesepuh pendiri blok kami, nama makam tersebut adalah makam balong.

Makam balong memang sebuah nama yang unik bagi sebuah pemakaman, selain karena bentuk dan artistiknya menyerupai balong, konon dulu menyimpan sejarah yang panjang.

Tapi, pada kesempatan pada kali ini, saya hanya menuliskan sejarah singkatnya, yang sudah saya rangkum dari beberapa cerita orang tua zaman dahulu.

Jadi sejarahnya, konon zaman dahulu sedang terjadi peperangan antara dua blok. Blok yang berada di kidul dengan Blok Umbul Balong.

Ketika terjadi penyerangan terhadap Blok Umbul Balong, sesepuh kami, Ki Wangsa Dikrama dengan  kesaktiannya tiba-tiba menjadikan blok kami seperti lautan yang luas.

Tentu saja dengan berubahnya blok kami menjadi lautan luas membuat warga blok kidul menjadi ketar-ketir ketakutan dan juga merasa aneh. "Loh ko jadi lautan, sakti banget blok ini".

Dengan ketakutan yang luar biasa, akhirnya membuat mereka gagal untuk melakukan penyerang dan juga tidak berani lagi menyerang blok kami.

Berasal dari situlah, akhirnya blok kami dinamakan menjadi Blok Umbul Balong. Umbul yang berarti "tempat" sedangkan Balong adalah "kolam air".

Dan dari situ juga, makam Ki Wangsa Dikrama dari dulu hingga saat berbentuk Balong.

Selain itu, kesaktian dari makam tersebut adalah walaupun berbentuk balong, tapi setiap musim hujan tidak pernah mengalami kebanjiran sama sekali.


Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Popular Posts

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Umbul Balongnews | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com