Media Informasi, Edukasi dan Wadah Kreativitas Warga UBL

Sabtu, 31 Oktober 2020

KH. Badruzzaman Akan Isi Peringatan Maulid Nabi di Pakopen

UmbulBalongnews, Cirebon - Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia menjadi momen spesial yang ditunggu-tunggu. Selain menjadi hari untuk mengingat dan mempelajari kembali sejarah Nabi Muhammad, beberapa tradisi turut digelar di beberapa daerah.

Di Blok Pakopen RT 04 RW 02 Desa Sindangjawa, para warga sekitar akan memperingati Maulid Nabi Muhammad dengan Pengajian Umum di Mushala Nurul Hidayah, yang diisi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ilmu, KH. Badruzzaman.

Agenda pengajian umum pada peringatan maulid tersebut akan diisi dengan berdzikir, menyenandungkan puji-pujian kepada Allah SWT, shalawat dan siram rohani oleh KH. Badruzzaman pada Sabtu, 31 Oktober 2020, pada jam 19.30 WIB nanti malam.

Perlu diketahui kegiatan pengajian tersebut merupakan inisiatif para Panitia Hari Besar Islam (PHBI) warga Pakopen.

Read More

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (3)

(Foto dari kanan: Bapak Syahidin, KH. Badruzzaman, Bapak H. Yayat)

UmbulBalongnews, Cirebon - Akhirnya beliau turun ke lembah sambil bertafakur melihat indahnya pemandangan sambil mencoba menanam padi.

Bila senja tiba, dia kembali ke Lebaksiu menjumpai keluarganya, karena jarak dari tempat ini tidak begitu jauh, sekitar 6 km.

Suasana di pegunungan tersebut sering membawa perasaan tenang, maka gunung tersebut diberi nama Gunung Mujarod yang berarti gunung untuk menenangkan hati.

Pada suatu hari, Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan waktunya untuk dipetik. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah.

Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang, hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Ini sebagai tanda bahwa perjuangan mencari gua sudah dekat.

Untuk meyakinkan adanya gua di dalamnya maka di tempat itu ditanam padi lagi, sambil berdoa kepada Allah, semoga gua yang dicari segera ditemukan.

Maka dengan kekuasan Allah, padi yang ditanam tadi segera tumbuh dan waktu itu juga berbuah dan menguning, lalu dipetik dan hasilnya ternyata sama, sebagaimana hasil panen yang pertama. Disanalah dia yakin bahwa di dalam gunung itu adanya gua.

(Keterangan foto: Bapak Zainal Asikin berdiri di depan pintu masuk) 

Sewaktu Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, terdengarlah suara air terjun dan kicauan burung yang keluar dari dalam lubang. Dilihatnya lubang besar itu, di mana keadaannya sama dengan gua yang digambarkan oleh gurunya.

Seketika kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Telah ditemukan gua bersejarah, dimana ditempat ini dahulu Syekh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yang bernama Imam Sanusi.

Gua yang sekarang dikenal dengan nama Gua Pamijahan diyakini adalah warisan dari Syeikh Abdul Qodir Al Jailani yang hidup kurang lebih 200 tahun sebelum Abdul Muhyi. Gua ini terletak di antara kaki Gunung Mujarod.

Sejak gua ditemukan Abdul Muhyi bersama keluarga beserta santri-santrinya bermukim disana. Disamping mendidik santrinya dengan ilmu agama, dia juga menempuh jalan tarekat.

Read More

Jumat, 30 Oktober 2020

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (2)

(Foto dari kanan: Adam Lutfi Maulana, Arif, Zainal Asikin, Labib Husni al Maududi)

UmbulBalongnews, Cirebon - Tak lama setelah pernikahannya, beliau bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darma Kuningan. Atas permintaan penduduk setempat Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun. Kabar tentang menetapnya Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana.

Disamping untuk membina penduduk, dia juga berusaha untuk mencari gua yang diperintahkan oleh gurunya, dengan mercoba beberapa kali menanam padi, ternyata gagal karena hasilnya melimpah.

Sedang harapan dia sesuai isyarat tentang keberadaan gua yang diberikan oleh Syekh Abdul Rauf adalah apabila di tempat itu ditanam padi maka hasilnya tetap sebenih artinya tidak menambah penghasilan maka di sanalah gua itu berada.

Karena tidak menemukan gua yang dicari akhirnya Syekh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan mencari gua.

(Foto di dalam Gua Safarwadi)

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah di daerah Pamengpeuk (Garut Selatan). Di sini dia bermukim selama 1 tahun untuk menyebarkan agama Islam secara hati-hati mengingat penduduk setempat waktu itu masih beragama Hindu.

Setahun kemudian ayahanda (Sembah Lebe Warta Kusumah) meninggal dan dimakamkan di kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan. Beberapa hari seusai pemakaman ayahandanya, dia melanjutkan perjalan mencari gua dan sempat bermukim di Batu Wangi.

Perjalanan dilanjutkan dari Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiu dan bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690 M).

Walaupun di Lebaksiu tidak menemukan gua yang dicari, dia tidak putus asa dan melangkahkan kakinya ke sebelah timur dari Lebaksiu yaitu di atas Gunung Kampung Cilumbu.

Read More

Kamis, 29 Oktober 2020

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw

UmbulBalongnews, Cirebon - Kami segenap pegasuh dan pengurus Pondok Pesantren Madinatul Ilmi mengucapkan Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Semoga kita selalu dapat meneladani kepribadian Rasulullah Saw dalam kehidupan kita sehari-hari.

Read More

Rabu, 28 Oktober 2020

Catatan Perjalanan: Mengenal Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (1)

(Foto dari kanan: KH. Badruzzaman, Deni Musadad, Bapak H. Yayat, Jufri, Bapak Syahidin, Alung, Zainal Asikin)

UmbulBalongnews, Cirebon - Nama Syekh Abdul Muhyi tak asing lagi bagi para warga di Pamijahan, Tasikmalaya karena sosoknya diyakini sebagai salah seorang wali Allah yang memiliki segudang karomah.

Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan Raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar 1650 Masehi atau 1071 Hijriah dan dibesarkan oleh orangtuanya di Kota Gresik.

Dia selalu mendapat pendidikan agama baik dari orang tua maupun dari ulama-ulama sekitar Gresik. Saat berusia 19 tahun dia pergi ke Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdul Rauf Singkil bin Abdul Jabar selama 8 tahun.

Pada usia 27 tahun dia beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan bermukim di sana selama dua tahun. Setelah itu diajak oleh Syekh Abdul Rauf ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji.

Ketika sampai di Baitullah, Syekh Abdul Rauf mendapat ilham kalau di antara santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda maka Syekh Abdul Rauf harus menyuruh santrinya pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim di sana.

(Foto dari depan: Arif, Deni Musadad, Labib Husni al Maududi, Jufri)

Suatu saat sekitar waktu ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya Syekh Abdul Rauf sebagai tanda-tanda tersebut.

Setelah itu, Syekh Abdul Rauf menyuruh pulang Abdul Muhyi ke Gresik untuk minta restu dari kedua orangtua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di salah satu daerah di Jawa Barat.

Sebelum berangkat mencari gua, Abdul Muhyi dinikahkan oleh orangtuanya dengan Ayu Bakta putri dari Sembah Dalem Sacaparana putra Dalem Sawidak atau Raden Tumenggung Wiradadaha III.

Read More

Jumat, 23 Oktober 2020

RA Madinatul Ilmi Ajarkan Pendidikan Agama Islam Sejak Dini

 

(Murid-Murid RA Madinatul Ilmi Foto Bersama di Depan Masjid Pondok Madinatul Ilmi)

UmbulBalongnews, Cirebon - Dalam mencetak genarasi putra-putri yang saleh dan salehah, Raudhatul Athfal (RA) Madinatul Ilmi Blok Umbul Balong, Desa Sindangjawa tanamkan metode pembelajaran agama Islam sejak dini.

Menanamkan ilmu agama Islam sejak masa kanak-kanak merupakan pembekalan diri yang sangat penting, karena hal tersebut dapat menjadi bekal untuk anak-anak agar menjadi putra-putri yang mengenal Tuhannya dan memahami agamanya, serta menerapkan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tingkat yang paling dasar, RA Madinatul Ilmi akan mengajari anak-anak dengan mengenal Allah SWT dan seluruh cipataan-Nya.

(Murid-Murid RA Madinatul Ilmi Sedang Praktik Ibadah)

“Pengetahuan agama yang kami (guru-guru) ajarkan kepada anak-anak adalah dengan mengenalkan Allah SWT, nama-nama 25 Nabi sekaligus sifat-sifatnya, nama-nama kitab, dan arah kiblat. Dengan begitu diharapkan anak-anak dapat mengenal Tuhannya dan memahami agamanya,” kata Bu Sumiyati., S.Pd.I.

Lebih lanjut, melalui pelajaran agama, menurut Bu Sumi sapaan akrabnya, anak-anak kemudian dikenalkan ritual ibadah terutama salat, wudu, membaca doa sehari-hari. Juga diajarkan pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa Islami agar terbentuk akhlak karimah.

“Para guru-guru RA Madinatul Ilmi dengan telaten mengajarkan anak-anak untuk praktik salat, praktik wudhu, hafalan doa sehari-sehari dan hafalan juz‘ama. Pembelajaran ini diharapkan agar anak-anak dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

(Murid-Murid RA Madinatul Ilmi Sedang Berdoa)

Perlu diketahui, RA Madinatul Ilmi adalah lembaga pendidikan bagi anak-anak yang berada di Blok Umbul Balong yang didirikan oleh Hj. Eri Satiri dan KH. Badruzzaman. Adapun staf pengajar RA Madinatul Ilmi adalah Desi Himmatul Ajizah., S.Psi,  Sumiayati., S.Pd.I, dan Komalaningsih., S.Pd.I.


Read More

Kamis, 22 Oktober 2020

Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Cirebon Gelar Doa Tolak Bala Bersama Masyarakat

UmbulBalongnews, Cirebon - Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Cirebon menggelar doa tolak bala bersama masyarakat, di masjid setempat, pada Selasa 13 Oktober 2020, malam.

Katua Tahfidz PP Madinatul Ilmi, Adam Lutfi Maulana mengatakan, doa bersama di malam Rabu Wekasan merupakan tradisi yang sarat mengandung nilai-nilai luhur yang telah diajarkan oleh para wali, yaitu yang mengajarkan Islam dengan cara kultural.

“Tradisi Rabu Wekasan ini menjadi nilai budaya dan sosial yang tidak terlepas dari pengaruh ajaran Islam,” kata Adam sapaan akrabnya, melalui pesan yang di terima Laduni.id.

Terlebih di Cirebon sendiri, menurut Adam, dalam tradisi Rabu Wekasan selain diisi dengan ritual ibadah, masyarakat sekitar juga mengisi dengan cara sosial, yaitu dengan sedekah mengasih makanan Apem kepada tetangga dan para santri.

“Selain berdoa, kami juga menjalankan tradisi ini dengan bersedekah, yaitu dengan bagi-bagi makanan Apem. Dan ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh para santri,” ungkapnya.

Selain itu, Adam juga menyampaikan, doa bersama di malam Rebo Wekasan salah satu tujuannya adalah untuk mengajak kepada para santri dan kepada warga sekitar untuk memohon perlindungan dari Allah AWT agar terhindar dari segala marabahaya dan musibah, terutama agar terhindar dari wabah penyakit Covid-19 yang sedang melanda di Indonesia. 

“Kami dari Pondok Pesantren Madinatul Ilmi mengajak kepada masyarakat sekitar untuk doa bersama agar Indonesia kembali aman dan penyakit Covid-19 segara diangkat oleh Allah SWT,” tuturnya.

Adam berpesan, semoga tradisi Rabu Wekasan dapat terus dilestarikan, karena Rabu Wekasan merupakan tradisi yang membawa kebaikan.

Read More

Sejarah Singkat Blok Umbul Balong

Di blok kami, di Desa Sindangjawa, Kec. Dukupuntang, Kab. Cirebon terdapat sebuah makam keramat, makam sesepuh pendiri blok kami, nama makam tersebut adalah makam balong.

Makam balong memang sebuah nama yang unik bagi sebuah pemakaman, selain karena bentuk dan artistiknya menyerupai balong, konon dulu menyimpan sejarah yang panjang.

Tapi, pada kesempatan pada kali ini, saya hanya menuliskan sejarah singkatnya, yang sudah saya rangkum dari beberapa cerita orang tua zaman dahulu.

Jadi sejarahnya, konon zaman dahulu sedang terjadi peperangan antara dua blok. Blok yang berada di kidul dengan Blok Umbul Balong.

Ketika terjadi penyerangan terhadap Blok Umbul Balong, sesepuh kami, Ki Wangsa Dikrama dengan  kesaktiannya tiba-tiba menjadikan blok kami seperti lautan yang luas.

Tentu saja dengan berubahnya blok kami menjadi lautan luas membuat warga blok kidul menjadi ketar-ketir ketakutan dan juga merasa aneh. "Loh ko jadi lautan, sakti banget blok ini".

Dengan ketakutan yang luar biasa, akhirnya membuat mereka gagal untuk melakukan penyerang dan juga tidak berani lagi menyerang blok kami.

Berasal dari situlah, akhirnya blok kami dinamakan menjadi Blok Umbul Balong. Umbul yang berarti "tempat" sedangkan Balong adalah "kolam air".

Dan dari situ juga, makam Ki Wangsa Dikrama dari dulu hingga saat berbentuk Balong.

Selain itu, kesaktian dari makam tersebut adalah walaupun berbentuk balong, tapi setiap musim hujan tidak pernah mengalami kebanjiran sama sekali.


Read More

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Umbul Balongnews | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com